Beranda » Memahami Bahasa Al-Quran » Cahaya dan Kegelapan Dalam Al Quran

Cahaya dan Kegelapan Dalam Al Quran

T Diposting oleh pada 29 April 2020
F Kategori
b Belum ada komentar
@ Dilihat 1137 kali

Cahaya dalam al-Quran disebut dengan kata (an-nur) النور sedangkan kegelapan disebut dengan kata (adz-dzulumaat)  الظلمات .

Perhatikan, ayat-ayat al-Quran berikut ini !

مَثَلُهُمْ كَمَثَلِ الَّذِي اسْتَوْقَدَ نَارًا فَلَمَّا أَضَاءَتْ مَا حَوْلَهُ ذَهَبَ اللَّهُ بِنُورِهِمْ وَتَرَكَهُمْ فِي ظُلُمَاتٍ لَا يُبْصِرُونَ

Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat.( Q.S al-baqarah ; 17)

اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ ۖ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ ۗ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka di dalamnya. (Q.S al-baqarah : 257)

اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ ۖ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ ۖ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِنْ شَجَرَةٍ مُبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ ۚ نُورٌ عَلَىٰ نُورٍ ۗ يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Q.S an-Nur : 35).

أَوْ كَظُلُمَاتٍ فِي بَحْرٍ لُجِّيٍّ يَغْشَاهُ مَوْجٌ مِنْ فَوْقِهِ مَوْجٌ مِنْ فَوْقِهِ سَحَابٌ ۚ ظُلُمَاتٌ بَعْضُهَا فَوْقَ بَعْضٍ إِذَا أَخْرَجَ يَدَهُ لَمْ يَكَدْ يَرَاهَا ۗ وَمَنْ لَمْ يَجْعَلِ اللَّهُ لَهُ نُورًا فَمَا لَهُ مِنْ نُورٍ

Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun.( Q.S an-Nur : 40)

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا مُوسَىٰ بِآيَاتِنَا أَنْ أَخْرِجْ قَوْمَكَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَذَكِّرْهُمْ بِأَيَّامِ اللَّهِ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami, (dan Kami perintahkan kepadanya): “Keluarkanlah kaummu dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah”. Sesunguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang penyabar dan banyak bersyukur.(Q.S Ibrahim : 5)

قُلْ مَنْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ قُلِ اللَّهُ ۚ قُلْ أَفَاتَّخَذْتُمْ مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ لَا يَمْلِكُونَ لِأَنْفُسِهِمْ نَفْعًا وَلَا ضَرًّا ۚ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الْأَعْمَىٰ وَالْبَصِيرُ أَمْ هَلْ تَسْتَوِي الظُّلُمَاتُ وَالنُّورُ ۗ أَمْ جَعَلُوا لِلَّهِ شُرَكَاءَ خَلَقُوا كَخَلْقِهِ فَتَشَابَهَ الْخَلْقُ عَلَيْهِمْ ۚ قُلِ اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ

Katakanlah: “Siapakah Tuhan langit dan bumi?” Jawabnya: “Allah”. Katakanlah: “Maka patutkah kamu mengambil pelindung-pelindungmu dari selain Allah, padahal mereka tidak menguasai kemanfaatan dan tidak (pula) kemudharatan bagi diri mereka sendiri?”. Katakanlah: “Adakah sama orang buta dan yang dapat melihat, atau samakah gelap gulita dan terang benderang; apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka?” Katakanlah: “Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dialah Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa”.(Q.S ar-ra’d : 16)

Dalam Bahasa arab kata nur (bentuk mufrad, tunggal) itu memiliki bentuk jamak yaitu anwaar    أنوارyang artinya cahaya-cahaya , lalu mengapa kata anwaar ini tidak ditemukan di dalam al quran?  Demikian halnya dengan kata dzulumat (bentuk jamak) memiliki bentuk mufrad /tunggal yaitu dzulmah ظلمة, Tapi mengapa bentuk dzulmah yang mufrad ini pun tidak ditemukan dalam al quran? Ini menunjukkan bahwa kata nur dan dzulumat memiliki makna khusus dan bukan kata yang biasa.

Annur adalah Bahasa al quran untuk menunjukkan cahaya Alloh ta’ala, yang cahaya ini tidak dapat diberikan oleh siapapun kecuali oleh Alloh saja, cahaya ini adalah cahaya yang akan menyelamatkan manusia dari kebinasaan didunia dan di akhirat. Dan ternyata cahaya ini tidak diberikan secara sembarangan, beruntunglah siapapun yang mendapatkannya dan merugilah siapapun yang tidak         memilikinya.

Lalu bagaimana dengan adzulumat ? Yang bermakna kegelapan-kegelapan?

Makna adzulumat ( kegelapan-kegelapan ) memiliki bentuk mufrad / tunggal yaitu dzulmah ظلمة yang artinya kegelapan, tetapi mengapa pula bentuk kata tunggal dzulmah ini tidak kita temukan di dalam al quran?  Ini menunjukan bahwa kata dzulumat adalah Bahasa al quran untuk menjelaskan kegelapan itu bersumber dari pelbagai hal dan manusia dapat dengan mudah mendapatkan kegelapan.

Bagaimana kita terhindar dari dzulumat dan dapat ternaungi cahaya annuur ?

Jika kita perhatikan dan analisis bersama ayat-ayat di atas maka ada hal-hal yang dapat di tadabburi, diantaranya ialah :

1. Sebagaimana yang digambarkan dalam al Quran, bahwa cahaya itu hanya satu dan hanya datang dari Alloh ta’ala saja bukan dari yang lain, cahaya Alloh ta’ala adalah cahaya yang menerangi hati, cahaya tersebut adalah ilmu dan hidayah yang mengantarkan seseorang menuju ketaatan sehinnga menjadikannya mengikuti petunjuk jalan menuju keselamatan dunia dan akhirat.

2. Cahaya dan kegelapan itu adalah dua hal yang bertentangan, cahaya bersumber dari Allah ta’ala sedangkan kegelapan bersumber dari syetan, hawa nafsu, thagut dan perbuatan buruk yang menjadikan seseorang terjerumus kedalam dosa dan kebinasaan di kemudian hari.

3. Dengan demikian Cahaya bermakna keimanan yang datangnya Hanya dari Allah ta’ala sedangkan kegelapan bermakna kekufuran, kemaksiatan, kebodohan, dan siksaan.

Semoga kita berada dalam cahaya ilahi yang penuh dengan ilmu dan iman, dan terhindar dari gelapnya kebodohan dan kebinasaan.  Cahaya Alloh ta’ala akan kita dapatkan dengan cara mendekat ke tempat-tempat suci seperti masjid atau majlis ilmu yang disana banyak menyebut nama Allah sehingga hati senantiasa berdzikir menyebut nama-Nya. Ingatlah, sesungguhnya hati manusia memerlukan siraman cahaya wahyu dari sang Khalik.  

Mudahnya Bahasa Arab, Indahnya Bahasa Al Quran

Syaeful Rochman, Lc . MA


Belum ada Komentar untuk Cahaya dan Kegelapan Dalam Al Quran

Silahkan tulis komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

a Artikel Terkait Cahaya dan Kegelapan Dalam Al Quran

Analisis Kata Taqwa Dalam Al Quran

T 30 April 2020 F A Hanafi Nurdiansyah

Ketaqwaan itu bertingkat-tingkat, sebab Allah berfirman: “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling bertaqwa.” Artinya, ada taqwa yang sampai tingkatan paling bertaqwa, ada pula yang taqwa yang tidak sampai paling bertaqwa; sebatas pertengahan atau minimal. Bagaimanakah wujud taqwa yang... Selengkapnya

Analisis kata متكئين dalam Al Quran

T 26 April 2020 F A Hanafi Nurdiansyah

Di dalam banyak ayat, Allah Ta’ala sering menyebutkan kondisi para penghuni jannah beserta kenikmatan yang mereka dapatkan. Di antara kondisi yang digambarkan Allah dalam Al-Qur’an tentang penghuni jannah ialah kepuasan mereka dalam menikmati aneka kenikmatan di jannah dengan bersandar. Allah... Selengkapnya

Analisis Bahasa Tentang kata Al-ba’sa dan Wa dharra’ – Kembali kepada Allah Ta’ala Saat Pandemi Corona

T 20 April 2020 F A bandungarabiccenter

Adakah dalil dari Al-Qur’an yang berbicara tentang virus corona yang sekarang mengguncang dunia? Jika ada, apa faidah dari adanya makhluk kecil yang menewaskan ribuan (bahkan puluhan ribu) orang di dunia ini? Apa tujuan dari adanya pandemi yang meneror penduduk bumi... Selengkapnya

+ SIDEBAR

Informasi lebih lanjut hubungi Customer Service Bandung Arabic Center di bawah ini

Telepon
Whatsapp